Artikel

Read More

Berita

Read More

Opini

Read More

Puisi

Read More

Recent Posts

Diskusi Daring Bertajuk Polemik UU ITE Terhadap Rivalitas Kebebasan Bersuara dan Berpendapat

                            


        Pasal UU ITE yang dianggap pasal karet oleh masyarakat banyak menuai kritik pro dan kontra. Pada hari Senin, 26 Juli 2021, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus mengadakan kegiatan diskusi daring dengan tema "Polemik UU ITE terhadap Rivalitas Kebebasan Bersuara dan Berpendapat". Dalam diskusi tersebut, terdapat Kaprodi Pemikiran Politik Islam Ibu Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M. Si. Yang bertindak sebagai Keynote Speaker. Selain itu, diskusi tersebut dihadiri oleh 3 narasumber profesional yaitu M. Hasan Syamsudin, M.I.P. selaku Dosen Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus, Dr. Muhaimin, M.H.I. selaku Dosen Hukum Islam FEBI IAIN Kudus dan Muhammad Faris Balya selaku Ketua HMJ Ilmu Politik UIN Wali Songo Semarang, kegiatan diskusi tersebut dipandu oleh Isnun Najib sebagai MC dan Ulya Ulul Janah sebagai moderator.

        

    Sambutan pertama diberikan oleh saudara Farkhan selaku ketua panitia kegiatan, sambutan kedua diberikan oleh Ziedane Akil Ghibran selaku Ketua HMPS PPI IAIN Kudus dan sambutan ketiga diberikan oleh Ibu Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si. selaku Kaprodi Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus. Beliau menyampaikan bahwa setelah acara tersebut selesai mahasiswa harus dapat mengoutput hasil publish mengenai proses legislasi pada UU ITE karena proses tersebut sebagai mata kuliah prodi PPI semester 6.

    

    Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Bapak M. Hasan Syamsudin, M.I.P. Masyarakat menganggap bahwa Pasal UU ITE dianggap sebagai pro dan kontra. Selama masih ada peluang untuk mengemban dan meninjau lagi maka pasal tersebut dapat direvisi kembali. Regulasi media yaitu antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Jika dalam masyarakat tidak ada ruang yang bebas maka perbudakan tidak akan pernah ada. Tanpa adanya kebebasan sipil maka negara tidak bisa dikatakan demokrasi. Menurut beliau, bicara kebebasan harus ingat tanggung jawab sosial sehingga kita akan sadar terhadap konsekuensi yang ada. Untuk menjembatani kebebasan dan tanggung jawab sosial yaitu dengan regulasi UU ITE.

    

    Pemaparan materi kedua disampaikan oleh saudara Muhammad Faris Balya, Ketua HMJ Ilmu Politik UIN Walisongo. Sebagai mahasiswa kita harus menjadi kritis, aktif, dan inovatif dalam mengutarakan suatu kritikan baik secara langsung atau lewat media internet. Peran mahasiswa sebagai sosial control yaitu sebagai penyambung (mediator) antara masyarakat, penguasa, dan pelaku demostrasi dalam dunia maya. Sedangkan peran internet dalam demokrasi yaitu meningkatkan transparansi, memberikan akses informasi dan akses partisipasi masyarakat. Banyak kasus dalam UU ITE terkait pelecehan seksual, seperti pencemaran nama baik mengkritik pemerintah dan menyebarkan rekaman suara yang meminta Presiden untuk mundur. Menurutnya, hal yang dapat kita lakukan saat ini sebagai mahasiswa yaitu mahasiswa terus melakukan sosial kontrol, mengubah pola kritik dari person beralih kepada kebijakan dan mengkritik hatus konstutusional, tidak menghina dan menyerang secara personal.

 
    Pemaparan ketiga disampaikan oleh Bapak Dr.Muhaimin.M.H.I, Dosen Hukum Islam FEBI IAIN Kudus. Adanya ruang kebebasan berekspresi kemudian mencoba untuk diatur dan dikontrol lewat keberadaan UU ITE. Hal tersebut dinyatakan dalam pasal 28 J UUD NKRI. Dalam konteks UU ITE, pembatasan dilakukan lewat undang-undang terhadap ruang kebebasan masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi lewat sarana elektronik. Pada tahun 2008 sampai awal tahun 2021, terdapat 375 kasus yang menjerat warga terkait UU ITE. Terdapat 7 pasal-pasal berpotensi membatasi hak berekspresi seseorang diantaranya Pasal 27 Ayat 1, Pasal 27 Ayat 2, Pasal 27 Ayat 3, Pasal 27 Ayat 4, Pasal 28 Ayat 2, Pasal 29 dan Pasal 40 Ayat 2A. Menurut beliau, perlu langkah substantif dalam revisi terhadap UU ITE yang dilakukan secara komprehensif terhadap pasal-pasal yang mengandung makna multi tafsir dan berpotensi mengekang demokrasi.


Kontributor : Sri Lestari Vitta Ningsih (Div. Riset & Pend. Politik)

Editor : Mochammad Ariq Ajaba (Koor. Div. Riset & Pend. Politik)


Sebuah Perkenalan : Alam, Islam dan Politik

sumber gambar : https://insists.id/wp-content/uploads/2015/10/Konstruk-Pembaharuan-Pemikiran-islam-di-Indonesia.jpg


     Suatu ketika, saya duduk berdampingan dengan seseorang yang luas keilmuannya. Dia bertanya pada saya bidang apa yang saya sukai. Dan tanpa pikir panjang, jawaban saya adalah  nature, gender, dan seni. Sepertinya jawaban saya agak nyleneh. Sebagai mahasiswa politik Islam, “kenapa kamu suka nature(alam)?”. Saya lebih terkejut dengan pertanyaan itu. Wajah saya bilang, “apa?”. Dia pun menjelaskan pertanyaannya. Yang dia penasaran, kenapa mahasiswa politik islam malah tertarik pada alam yang sebenarnya tidak linear dengan keprodian. Dia melanjutkan, “apa hubungannya Islam, politik, dan alam?”. Lhoh, rekan diskusi saya ini tidak tahu atau hanya kurang paham. Ternyata dia benar tidak tahu. Satu-satunya yang dia ketahui, kebersihan itu sebagian dari iman.

    Jiwa saya meronta-ronta. Ini adalah potret dari lingkungan kita. Seolah-olah agama adalah hanya perkara ibadah antara manusia dengan Tuhan. Apa-apa yang telah diajarkan oleh para ahli agama selama ini hanya bagaimana cara manusia beribadah kepada Tuhannya. Tapi pernahkah mendengar seorang ahli agama berseru untuk pikirkan alam? Lestarikan alam? Saya rasa langka.

    Apakah saya hanya bergumam tidak jelas mengungkapkan pikiran saya? Mungkin coba baca buku Konservasi Alam dalam Islam edisi revisi karya Fachruddin M. Mangunjaya. Dalam pembukaannya, Mangunjaya mengungkapkan bahwa sikap muslim dalam kehidupan sehari-hari telah memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat. Seolah saleh hanya menyoal tentang cara-cara beribadah pada Tuhan. Padahal sebenarnya, melestarikan alam adalah termasuk kesalehan terhadap Tuhan. 

    Tulisan ini akan mencoba memberikan gambaran luasnya pemikiran Islam tentang alam. Tidak perlu terlalu njelimet. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan rekan diskusi saya sehingga dia akan bilang “oh jadi begitu”. Paling tidak, saya ingin memahamkan pada pembaca kalau membicarakan nature bukan milik segelintir orang, dan membicarakan nature sebenarnya membicarakan Islam dan politik juga.

    Kita mengamini bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Secara sederhana, artinya adalah Islam sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam. Konsep ini masihlah bersifat abstrak(Yahya, 2018), karena itu definisi dan cakupannya sangat luas selama tidak bertentangan dengan Al-Quran. Rahmatan lil alamin terdapat dalam Al-Quran surat al-Anbiya’ ayat 107: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) ramhat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin)”. Dari berbagai pandangan, semuanya akan menuju pada visi Islam sebagai agama penuh kelembutan, kedamaian, dan solusi untuk dunia (Rasyid, 2016). Maka dalam hal ini, alam tidak bisa dilepaskan dari Islam itu sendiri.

    Alam adalah tempat manusia untuk hidup, pun sebagai tempat umat Islam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT dan ibadah dalam menjalankan kehidupan sosialnya. Lalu apakah layak bagi kita melupakan amalan kita terhadap alam? Padahal telah jelas bahwa dalam beribadah adalah hablumminallah, hablumminannas, dan hablumminalalam?

    Hablumminallah pada dasarnya adalah bagaimana manusia menyatakan keimanannya kepada Allah SWt melalui ibadah langsung kepada-Nya. Sedangkan hablumminannas adalah bagaimana manusia menjalin hubungan sosial yang baik dengan masyarakat sebagai bentuk pengamalan iman kepada Allah SWT. Sedang yang kita bicarakan sekarang, adalah hablumminalalam. 

    Hablumminalalam adalah bentuk ibadah umat melalui usaha memakmurkan bumi. Menjaga alam dan melestarikan alam adalah bentuknya. Bahkan Allah SWT telah jelas berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 60: “…dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu,” lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan…”. Dari ayat tersebut maka sesungguhnya Allah SWT telah memberikan rezeki di muka bumi untuk manusia, dan sesungguhnya Allah SWT melarang hambanya merusak alam (Swararahima, 2018).

    Selanjutnya dalam Surat Shad ayat 27-28, Allah SWT menyebut orang yang berbuat kerusakan di bumi sebagai golongan orang yang kufur (mengingkari) nikmat Allah (Swararahima, 2018). “… dan Kami tidak menciptakan tangit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-­orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang- orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?”.

    Hablumminalalam adalah sebuah tugas dan kewajiban manusia sebagai khalifah di muka bumi. Bukan hanya sebagai pemimpin umat manusia, tapi juga sebagai pemimpin alam dan sebagai pelindung alam. Jika kita bicara tentang pemimpin, maka Rasulullah adalah khalifah yang terbaik. Sebagai teladan umat manusia, rasulullah telah menetapkan usaha pelestarian alam. Salah satunya adalah penetapan kawasan hima, yaitu kawasan yang didalamnya dilarang melakukan perburuan dan eksploitasi tanaman (Tajudin, 2020). Hima bahkan dijaga sebagai kewajiban religius. Dinyatakan dalam sebuah hadits: “sesungguhnya al-hima (bumi larangan) adalah hima’nya Allah dan Rasulnya” (Arif, 2015).

    Bukan tanpa alasan hima ditetapkan. Kawasan ini adalah daerah yang diperuntukkan untuk menjaga keseimbangan alam dan kesejahteraan umat. Terdapat lima jenis kawasan hima. Pertama, kawasan yang didalamnya tidak diperbolehkan mengembala ternak. Kedua, kawasan yang di musim-musim tertentu diperbolehkan menggembala dan memotong pohon. Ketiga, kawasan yang penggunaannya untuk ternak gembala dibatasi jumlahnya. Keempat, kawasan untuk melestarikan bunga yang didatangi madu. Kelima, kawasan yang sama sekali dilarang dirusak (Tajudin, 2020). 

    Maka dalam pengelolaan alam ini, sebenarnya rasulullah telah menerapkan apa yang sekarang dinamakan politik lingkungan dan politik ekologi. Sederhanya, politik lingkungan membicarakan politik menyangkut pengelolaan sumber daya alam. Pengambangan kajian politik lingkungan ini mengadaptasi politik ekologi, yang pengertiannya diungkapkan Watts: “to understand the complex relations between nature and society through a careful analysis of what one might call the forms of access and control over resources and their implications for environmental health and sustainable livelihoods.” Dengan demikian, maka makna dari politik lingkungan adalah instrument untuk memahami hubungan alam dan masyarakat melalui analisa bentuk akses dan control terhadap sumber daya dan dampaknya bagi kesehatan lingkungan dan keberlanjutannya (Siahaan, 2020).

    Lalu kemudian, bagaimana relevansinya hima dengan kebijakan politik lingkungan? Mari kita ambil contoh negara kita sendiri. Indonesia telah menerapkan hima ini dalam penetapan wilayah konservasi, yaitu melalui cagar alam dan taman margasatwa. Pada tahun 2021 ini, Indonesia telah menetapkan 556 kawasan konservasi dengan luas mencapai 27,14 juta hektar. Jumlah ini terdiri dari 214 cagar alam, 80 unit suaka margasatwa, 54 taman nasional, 134 taman wisata alam, 34 taman hutan raya, dan 29 unit kawasan suaka alam. Dari kawasan ini, yang dilarang untuk dikunjungi adalah cagar alam dan kawasan suaka alam (Ramadhian, 2021). 

    Penetapan kawasan konservasi memang penting dilakukan. Deforestasi kini menjadi masalah besar bagi dunia global. Banyak hutan yang akhirnya hilang akibat adanya pembabatan liar dan masifnya penggundulan. Telah hilang tempat tinggal hewan dan tumbuhan. Pemerintah global pun berlomba memberi acuan bagi negara untuk menyelenggarakan pemerintahan dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan.

    Lalu apakah ada jawaban dari pertanyaan “adakah hubungan antara alam, Islam, dan keprodianmu?” jawabannya ada dan telah jelas. Memikirkan alam adalah tanggungjawab Islam dan tanggungjawab politik juga. di satu sisi, sebagai seorang insan, saya memiliki beban untuk melestarikan alam sebagai wujud dari keimanan terhadap Allah SWT. Dalam kaitannya saya sebagai mahasiswa Pemikiran Politik Islam, memahami adanya politik lingkungan hidup adalah penting. Itu adalah cara bagaimana seorang politikus memikirkan kebijakan yang berperspektif alam dan berkelanjutan. Salah satu kebijakan politik yang secara nyata berkaitan erat dengan Islam dan pelestarian alam adalah penetapan kawasan konservasi, yang sebenarnya memang telah diajarkan oleh Rasulullah.

    Maka masihkah anda memisahkan pemahaman antara Islam dan alam? Islam memikirkan alam secara normatif dan praktik. Bahwa bumi adalah bentuk rezeki, karenanya manusia tidak diperbolehkan merusaknya dan harus melestarikannya. Praktik paling efektif adalah penetapan wilayah konservasi (hima) yang dihukumi secara Islam untuk mempertahankan ekosistem di kawasan tersebut. 

Kontributor : Melina Nurul Khofifah ( Mahasiswa PPI’18 )



REFERENSI

Arif, M. (2015). PEMERINTAHAN KHALIFAH USMAN BIN AFFAN (Analisis Historis Sebab-Sebab Munculnya Pemberontakan) [UIN Alauddin Makassar]. In UIN Alauddin. Tesis

Ramadhian, N. (2021). Indonesia Punya 556 Kawasan Konservasi, Mana yang Boleh Dikunjungi? Kompas.Com. https://travel.kompas.com/read/2021/01/18/125500427/indonesia-punya-556-kawasan-konservasi-mana-yang-boleh-dikunjungi-?page=all

Rasyid, M. M. (2016). Islam Rahmatan Lil Alamin Perspektif Kh. Hasyim Muzadi. Epistem√©: Jurnal Pengembangan Ilmu Keislaman, 11(1), 93–116. https://doi.org/10.21274/epis.2016.11.1.93-116

Siahaan, V. R. (2020). Politik lingkungan indonesia. UKI Press. http://repository.uki.ac.id/1826/

Swararahima. (2018). Ayat-Ayat Alquran tentang Penyelamatan Lingkungan. Swara Rahima. https://swararahima.com/2018/08/13/ayat-ayat-alquran-tentang-penyelamatan-lingkungan/

Tajudin, Q. (2020). Konsep Islam Melindungi Alam. Forest Digest. https://www.forestdigest.com/detail/721/konsep-islam-melindungi-alam

Yahya, I. (2018). Islam Rahmatan Lil’alamin. IAIN Surakarta. https://iain-surakarta.ac.id/islam-rahmatan-lilalamin/



Mahasiswa PPI'19 IAIN Kudus, M Ariq Ajaba Menjadi Duta FDKI 2021



    Mahasiswa PPI ( Pemikiran Politik Islam ) IAIN Kudus, Mochammad Ariq Ajaba menjadi juara 1 Putra Duta FDKI tahun 2021 yang diselenggarakan oleh DEMA FDKI  ( Dewan Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam ). 

Laki-laki yang beralamat di Desa Barongan, Kecamatan  Kota Kudus ini, mengatakan “ saya merasa bersyukur atas pencapaian yang di dapatkan dan saya juga merasa siap dalam mengemban amanah menjadi Duta FDKI tahun 2021. ”-tuturnya. 

Saat ditanya apa motivasi mengikuti ajang Duta FDKI tersebut, mahasiswa PPI Angkatan 2019 ini mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang pertama “ saya menyukai tantangan yang bersifat positif dimana dapat meng-upgrade skill kepribadian saya, salah satu upayanya dengan mengikuti lomba Duta FDKI dan saya ingin mengukur sejauh mana kapabilitas saya dalam menghadapi tantangan lomba tersebut. faktor kedua, kebetulan pada masa PPKM ini aktivitas saya kosong dan banyak waktu longgar, jadi tepat rasanya jika kekosongan waktu tersebut saya manfaatkan dengan mengikuti lomba tersebut.”-ungkapnya. 

Dengan amanah yang di dapatkan menjadi duta putra fdki ini, “ saya akan memajukan fakultas ini sesuai dengan visi yang tercantum, selain itu membangun citra yang baik pada FDKI supaya CAMABA ( Calon Mahasiswa Baru )  dapat tertarik berkuliah di IAIN Kudus tepatnya di FDKI. Tentunya hal ini dilakukan saling bantu membantu dengan jajaran SEMA FDKI, DEMA FDKI, dan Civitas Akademika FDKI ”.-jelasnya. 

Sebagai penutupnya, “saya berpesan untuk mahasiswa khususnya FDKI, tetap semangat dan produktif selama berkuliah sampai kalian lulus nanti. Teruslah bekerja keras, gapai semua mimpi-mimpi kalian. Yakinlah kalian bisa sukses dengan potensi & jalan kalian masing-masing. Dalam keadaan apapun jangan mengeluh, tetap berusaha semaksimal mungkin. Ingatlah bahwa pendidikan itu amatlah penting, yang bisa memutuskan rantai kemiskinan. Bagi kalian yang bisa berkesempatan untuk berkuliah, maksimalkan lah karena tidak sedikit orang diluar sana yang bisa berkesempatan untuk kuliah.’’-tuturnya. 


Kontributor : Khoirun Yanis ( Mahasiswa PPI’19 )

Ulya Ulul Jannah ( Mahasiswa PPI’19 ) 


Pesantren dalam Arus Zaman: Meniti Jejak Lembaga Pendidikan Tertua di Indonesia

 

Sumber gambar :  https://images.app.goo.gl/dBXcuRA8TirnuC4s5

“Pesantren adalah jejak dinamika sosial politik Indonesia. Darinya lahir semangat pemberdayaan masyarakat, persatuan kesatuan, dan rasa cinta tanah air”

    Itulah catatan kecil saya mengenai keberadaan pesantren di Indonesia. Bukan sebagai mutlak lembaga pendidikan, namun sebagai kesatuan nilai yang membawa masyarakat pada perubahan ke arah lebih baik. Dari pertama pesantren masuk ke Indonesia, citranya sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat sudah melekat kepadanya. Kekhasan pesantren dalam masyarakat telah lama menjadi bahan menarik bagi banyak penulis, tak terkecuali saya. Maka berikut saya akan paparkan secara singkat mengenai perkembangan pesantren di Indonesia.

    Pesantren, secara bahasa berasal dari kata “santri” berimbuhan “pe-an”. Kata santri sendiri berasal dari bahasa Jawa “cantrik” yang berarti murid yang selalu mengikuti arahan gurunya. Sedangkan imbuhan “pe-an” menunjukan tempat tinggal. Sehingga pesantren dapat diartikan sebagai tempat para murid yang belajar. Secara istilah, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang berkembang di Indonesia.

    Pesantren pertama kali dikenal di Indonesia melalui jasa seorang Walisongo, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Ampel) yang mendirikan sebuah pondok pesantren di Ampel Surabaya. Banyak orang kemudian datang untuk berguru pada beliau, bukan dari tanah Jawa saja, tapi juga dari luar pulau Jawa. Dari santri-santrinya inilah bentuk pendidikan pesantren mulai menyebar di tanah air. Pengajaran yang dibawanya tentu melekat dengan kekhasan ajaran Islam Sunan Ampel.

    Model pesantren tampaknya sangat menjanjikan sebagai media penyebaran Islam di Indonesia. Tentu saja ini bukan hanya karena pesantren mengajarkan agama yang sama sekali baru bagi masyarakat. Tapi karena kemantapan pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajar untuk membangun dirinya sendiri, tapi juga mengajar untuk membangun (memberdayakan) masyarakat.

    Satu kisah yang perlu diambil contoh adalah lahirnya Kesultanan Demak yang berawal dari Pesantren. Dikisahkan dalam Babad Cerbon bahwa Raden Patah yang merupakan santri Sunan Ampel diminta untuk membuka hutan pohon gelagah wangi dekat Desa Bintara. Dari sana didirikanlah sholat Jumat dan pengajaran Islam hingga disebut Pesantren Demak. Lambat laun, tempat itu jadi semakin ramai hingga terbentuklah desa yang rakyatnya sejahtera seperti di pusat kerajaan. Berawal dari pesantren, tempat belajar itu kini menjadi Kesultanan Demak dengan Raden Patah sebagai sultan pertamanya.

    Perkembangan pesantren sayangnya harus meredup setelah penjajah datang. Kuatnya pengaruh pesantren membuat Belanda khawatir hingga harus menerapkan strategi politiknya untuk mencegat gerakan perlawanan dari kaum santri. Pesantren dipaksa mundur sampai abad ke-20. Pada masa 1900-an, kaum santri mulai sadar pentingnya memupuk persatuan dan literasi. Sudah cukup kaum santri mengangkat senjata secara sendiri-sendiri. Kini saatnya kaum santri untuk bangkit bersama menggalang persatuan. Melalui pendirian organisasi Islam, muslim dan santri memulai mobilisasinya mengusir penjajah. Salah satu yang paling monumental adalah hadirnya Resolusi Jihad yang mengantarkan Indonesia menang melawan Agresi Militer Belanda.

    Singkat cerita, perkembangan pesantren malah mandek dari perhatian negara setelah kemerdekaan. Pesantren ditarik lagi sebagai lembaga lokal yang mengajarkan agama Islam dan membantu masyarakat, khususnya dalam hal rohaniah. Perannya terpasung, terlebih di masa orde baru. Meskipun secara hukum lebih diakui oleh negara, tapi pesantren di era orde baru lebih terkungkung oleh kebijakan pemerintah.

    Masa reformasi akhirnya turut membawa dampak baik bagi pesantren. Perannya mulai diakui negara sebagai salah satu lembaga pendidikan resmi melalui UU Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Posisi ini semakin strategis dengan hadirnya peraturan terbaru, yaitu UU Nomor 18 tahun 2019 tentang Pesantren. Melalui peraturan ini, pesantren diakui sebagai pendidikan formal. Diharapkan melalui peraturan tersebut, pesantren dapat secara otonom mengembangkan diri untuk setara dengan sekolah formal lainnya.

    Namun perlu saya sampaikan kritik bahwa pembangunan pesantren tidaklah merata. Sejumlah pesantren di masa sekarang masih terbawa kungkungan masa lalu sehingga sulit maju dan menegakkan tugasnya sebagai agen pemberdayaan masyarakat. Mungkin kita lihat pesantren maju seperti pesantren entrepreneur. Tapi sebuah pertanyanan muncul, dimana letak pesantren di masyarakat sekarang?

    Menjadi sebuah pekerjaan rumah baru bagi pesantren untuk dapat mengembalikan fungsinya sebagai agen pemberdayaan masyarakat berdasarkan asas-asas Islam dan ke-Indonesia-an. Selain itu, lebih penting lagi adalah bagaimana pesantren mampu memajukan diri menampakkan esistensinya sebagai lembaga pendidikan yang mengikuti arus perkembangan zaman. 


Kontributor : Melina Nurul Khofifah ( Mahasiswa PPI'18 )

HMPS PPI Berkolaborasi Dengan Dosen FDKI dan Mahasiswa Berprestasi Dalam Membahas "Strategi Cepat Menyelesaikan Skripsi"

 


    Persyaratan menjadi seorang sarjana adalah mahasiswa harus menyelesaikan skripsi, kali ini HMPS PPI mengadakan diskusi online pada tanggal 09 Juni 2021 yang bertemakan "Strategi Cepat Menyelesaikan Skripsi" yang disampaikan kaprodi Pemikiran Politik Islam ibu Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M. Si. dan empat narasumber yang profesional diantaranya M. Nur Rofiq Addiansyah, M.A. dosen PPI IAIN Kudus, Aisyah Maulida, S.IP., MPA. Dosen PMI IAIN Kudus, Tevana Sari Dewi, S.Sos. lulusan tercepat Prodi PPI IAIN Kudus, dan Adiba Arifia Fadilah, S.Sos. lulusan tercepat Prodi PMI IAIN Kudus.

    Sambutan diberikan oleh Kaprodi Pemikiran Politik Islam ibu Dr. Siti Malaiha Dewi. S.Sos., M.Si. Beliau menjelaskan mengenai ada 5 jenis status mahasiswa IAIN Kudus yaitu mahasiswa aktif, mahasiswa cuti, mahasiswa mengundurkan diri atas permintaan sendiri, mahasiswa lulus dan mahasiswa tidak lulus. Dari Permenristekdikti Nomer 44 thn 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yaitu masa akademik selama 7 tahun. Beban studi mahasiswa PPI adalah 148, 139 mata kuliah wajib dan 9 mata kuliah pilihan. Dalam skripsi ada 6 sks yang mencakup keilmuan. Kelulusan dilakuakan denga ujian munaqosah dengan 5 dosen. Mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah dengan kurikulum KKN berhak mendapatkan ijazah, transkip akademik dan  SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah). Beliau juga mengatakan mahasiswa harus bisa output tulisan-tulisan dari dosen atau dari akdemisi lainnya dan harus langsung beraksi, menjadi relasi dari dosen dan selalu menghargai dosen.

    Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Bapak M. Nur Rofiq Addiansyah. M.A. dosen PPI IAIN Kudus. Skripsi harus dijadikan sebagai semangat, ikhtiar, usaha dan doa bukan dijadikan sebagai beban dan masalah. Faktor kesuksesan skripsi ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari diri mahasiswa sendiri, sebagai mahasiswa harus bisa membuang rasa malas, bosan dan jenuh sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan cepat. Faktor eksternal berasal dari lingkungan kampus, dosen pembimbing dan teman. Ada beberapa pengalaman kuliah mulai dari semester 1 sampai 6, biasanya semester 1-2 mengikuti kuliah dengan baik, ikut organisasi dan main bersama teman-teman. Semester 3-4 mulai mengikuti berbagai lomba, semester 5 mulai magang dan mencari judul skripsi, semester 6 sibuk organisasi dan aktif kegiatan diluar kampus. Beliau juga memberikan tips agar mahasiswa cepat skripsi diantaranya membangun komunikasi yang baik dengan pembimbing, jangan terlalu serius sampai stress, buat timeline, sharing dengan orang yang tepat dan memperbanyak doa dan ikhtiar. Skripsi yang bagus adalah skripsi yang cepat selesai.

    Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Adiba Arifia Fadilah, S.Sos. lulusan tercepat prodi PMI IAIN Kudus. Memberikan tips dan trik menyusun skripsi cepat dan tepat, kita harus menentukan target berapa lama kita menulis skipsi, membuat timeline mengerjakan skripsi, jangan terlalu berfikir lama kerjakan saja dan jangan terlalu lama  berhenti jika menemui jalan buntu harus mememukan solusinya. Dia juga memberikan tips menulis judul skripsi yaitu Cari topik yang kalian suka, berikan batasan dan tujuan yang jelas supaya penelitian tetap terfokus, sering-sering membaca referensi jurnal atau penelitian terdahulu dan ikuti saran atau rekomendasi dari dosen pembimbing. Kita harus bisa melawan rasa malas diri sendiri, kurangi megang HP, kurangi membuka media sosial, tahan diri dan fokus tujuan.  

    Pemaparan materi ketiga disampaikan oleh Aisyah Maulida, S.IP., MPA. dosen PMI IAIN Kudus. Dalam pengumpulan skripsi kita dapat menemukan berbagai pengalaman dan banyak manfaat lainnya salah satunya dalam skripsi yang dibuat beliau "Telaah Kritis Jaringan Sosial Siti Rodliyah dalam Pemilihan Legislatif 2009 di Jepara". Ada fua faktor dalam menyusun skripsi yaitu faktor internal (diri sendiri dan motivasi) dan faktor eksternal (dosen pembimbing, sumber data dan masalah non akademis). Faktor internal lebih mudah di kontrol daripada faktor internal yang lebih sulit untuk di kontrol. Kita harus punya strategi-strategi yang tepat dalam mengontrolnya yang disebabkan faktor tersebut. Beliau memberikan 5 strategi menulis skripsi diantanranya, tentukan motivasi, kenali skripsimu, jaga relasi dengan pembimbing, bangun omage baik dan realistis atau idealis.

    Pemaparan materi keempat disampaikan oleh Tevana Sari Dewi, S.Sos. lulusan tercepat prodi PPI IAIN Kudus. Skripsi adalah ajang latihan bagi mahasiswa dalam rangka melakukan penelitian secara obyektif yang membutuhkan bimbingan dari dosen pembimbing skripsi agar tidak mengalami kebingungan dan kesalahan yang fatal. Dia memberikan tips mengerjakan skripsi secara cepat dan tepat diantaranya, pertama, usahakan mencari tema penelitian yang memang kita sukai dan pahami, kedua, Pastikan kita berada dalam circle pertemanan yang punya keinginan untuk segera lulus, ketiga, Berikan waktu setidaknya 3 atau 4 jam untuk menulis skripsi, keempat, Mencari tempat untuk mengerjakan skripsi yang kondusif dan bisa berkonsentrasi tinggi, kelima, Membuat mini discussion dengan kakak tingkat, teman dan dosen dalam rangka brainstorming, dan keenam, Tidak lupa berdoa dan meminta restu orang tua. Ada beberapa rekomendasi situs dalam mencari jurnal ilmiah yaitu Google Scholar, Perpustakaan Nasional RI, Academia, Moraref, GARUDA Ristekdikti, Durectory of Open Access Journalis (DOAJ) dan Collection of Open Access Research Papers (CORE).

Kontributor : Sri Lestari Vitta Ningsih ( Mahasiswa Ppi”19 )


Tevana Sari Dewi Jadi Lulusan Pertama Prodi PPI Berkat Kegigihannya





    Mahasiswi PPI ( Pemikiran Politik Islam ) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, IAIN Kudus;Tevana Sari Dewi  yang akrab disapa Tevana ini lahir di Kudus dua puluh tahun silam yang lalu berhasil menjadi lulusan pertama di prodi PPI angkatan pertama tahun 2017.

    Gadis yang beralamat di Desa Ngembal Kulon,2/1, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus ini, berhasil menyelesaikan studi tepat waktu di jenjang Strata Satu ( S1 ) pada prodi PPI , Tevana pun tidak menyangka menjadi lulusan pertama di prodi PPI Angkatan pertama tahun 2017 , “Karena memang sejauh ini hanya bisa berusaha untuk menikmati setiap prosesnya dalam bertholabul ilmi,” ujarnya. 

    Saat ditanya mengapa memilih tema penelitian “Islam, Gender, dan Politik” tersebut, Mahasiswi PPI angkatan 2017 ini  mengatakan bahwa “Pertama, tema tersebut memang jarang diteliti, selain itu tema tersebut merupakan salah satu tema yang sesuai dengan interestnya.Untuk itulah saya mengkaji topik penelitian tersebut,” ujarnya. 

    Dengan banyak motivasi dan inspirasi,  Tevana berusaha memberikan yang terbaik terutama dalam hal pendidikannya, tak terkecuali juga dukungan dari orang tua yang membesarkan dan mendidiknya sampai sekarang terlebih Ibu yang menjadi salah satu motivasi Tevana sampai detik ini yang mungkin tidak bisa Tevana  jabarkan akan sangat berartinya beliau di hidup Tevana sehingga mampu menjadi pribadi yang seperti saat ini. Tevana juga menyampaikan ucapan “Terima kasih kepada seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam khususnya Bapak dan Ibu Dosen Prodi PPI atas didikan, ilmu, support, dan lain sebagainya terutama Bu Umi Qodarsasi, Bu Malaiha, Bu Nevy, Pak Ozi, Pak Rofiq, dan dosen lainnya yang mungkin belum saya sebutkan satu persatu. Disamping itu terselesaikannya tugas akhir saya tidak terlepas dari dosen pembimbing yaitu Bu Malaiha yang sudah membimbing, memberikan sarannya saat membimbing skripsi saya sehingga dapat melalui serta menyelesaikan tugas akhir dengan tepat waktu. Pun Tevana juga menyampaikan kepada seluruh pihak yang telah bersedia menjadi informan dalam penelitian tugas akhir saya terkhusus dalam rangka membantu memberikan berbagai data-data yang saya butuhkan di penelitian tugas akhir saya.”-ujarnya

    Tevana dinyatakan lulus dan berhasil mendapat gelar S.Sos (Sarjana Sosial) nya pada Jum’at, 9 Syawal 1442 H/21 Mei 2021 setelah menyelesaikan Ujian Munaqosah Skripsi. Gadis yang berasal dari keluarga sederhana ini selalu berusaha untuk tidak pantang menyerah meskipun dalam perjalanan menempuh pendidikannya harus merasakan beberapa challenge yang harus dilewatinya salah satunya keterbatasan ekonomi untuk pendidikannya. Semasa kuliah Ia harus memanage waktu antara kuliah, mengerjakan tugas, bekerja (part time), terlibat di beberapa kegiatan sosial, dan terkadang mengikuti lomba kepenulisan serta berpartisipasi dalam kegiatan yang mampu mengeksplore akan potensi dalam dirinya. Dengan jiwa yang tidak mudah menyerah itu di tahun 2019 Ia mengikuti seleksi Beasiwa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan berhasil menjadi salah satu awardee selama satu semester. Tahun 2020 Ia pun kembali mengikuti seleksi Beasiswa Bank Indonesia (BI) dan kembali berhasil menjadi salah satu awardee Beasiswa Bank Indonesia sehingga Ia berhasil tergabung di komunitas penerima Beasiswa BI yaitu Komunitas Generasi Baru (GenBI) Komisariat IAIN Kudus Periode 2020/2021. “Injeksi finansial dari beasiswa yang saya dapatkan selain saya gunakan untuk biaya UKT juga saya saving sebagai biaya studi lanjut nanti Insya Allah, semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya di lain waktu nanti untuk kembali melanjutkan studi S-2 serta mampu berkontribusi sekaligus membawa kemaslahatan untuk orang lain”.-jelasnya.

    Sebagai penutupnya, Tevana juga berpesan “untuk mahasiswa terutama mahasiswa prodi PPI tetap semangat dalam thollabul’ilmi, berikan usaha yang terbaik saat menempuh studi di perguruan tinggi, gunakan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya, dan jika di tengah perjalanan studi merasa gagal atau belum kompeten tidak masalah meski terkadang usaha yang kita berikan sudah maksimal namun pada realitanya belum sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan harus kembali bangkit dan semangat. The last, jangan pernah mengeluh akan tugas-tugas kuliah yang diberikan oleh Bapak/Ibu Dosen tapi jadikan tugas itu menjadi media untuk kita belajar mengeksplore akan potensi diri, ilmu, dan lain sebagainya.”-tuturnya.


Kontributor : Khoirun Yanis, Mahasiswa PPI’19


 





About

Institut Agama Islam Negeri Kudus Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Program Studi Pemikiran Politik Islam

Visi

Menjadikan Program Studi Unggul di Bidang Pemikiran Politik Islam Berbasis Islam Terapan pada Level Nasional Tahun 2023.

Misi

1. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran pada Program Studi Pemikiran Politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.
2. Menyelenggarakan penelitian dalam bidang Pemikiran Politik Islam berbasis Islam Terapan serta mempublikasikan di jurnal nasional.
3. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pemikiran politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.

Address:

Jl. Gondangmanis No.51, Ngembal Rejo, Ngembalrejo, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59322

Our Mail Addrees

hmpsppiiainkudus@gmail.com