Artikel

Read More

Berita

Read More

Opini

Read More

Puisi

Read More

Recent Posts

HMPS PPI Berkolaborasi Dengan Dosen FDKI dan Mahasiswa Berprestasi Dalam Membahas "Strategi Cepat Menyelesaikan Skripsi"

 


    Persyaratan menjadi seorang sarjana adalah mahasiswa harus menyelesaikan skripsi, kali ini HMPS PPI mengadakan diskusi online pada tanggal 09 Juni 2021 yang bertemakan "Strategi Cepat Menyelesaikan Skripsi" yang disampaikan kaprodi Pemikiran Politik Islam ibu Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M. Si. dan empat narasumber yang profesional diantaranya M. Nur Rofiq Addiansyah, M.A. dosen PPI IAIN Kudus, Aisyah Maulida, S.IP., MPA. Dosen PMI IAIN Kudus, Tevana Sari Dewi, S.Sos. lulusan tercepat Prodi PPI IAIN Kudus, dan Adiba Arifia Fadilah, S.Sos. lulusan tercepat Prodi PMI IAIN Kudus.

    Sambutan diberikan oleh Kaprodi Pemikiran Politik Islam ibu Dr. Siti Malaiha Dewi. S.Sos., M.Si. Beliau menjelaskan mengenai ada 5 jenis status mahasiswa IAIN Kudus yaitu mahasiswa aktif, mahasiswa cuti, mahasiswa mengundurkan diri atas permintaan sendiri, mahasiswa lulus dan mahasiswa tidak lulus. Dari Permenristekdikti Nomer 44 thn 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yaitu masa akademik selama 7 tahun. Beban studi mahasiswa PPI adalah 148, 139 mata kuliah wajib dan 9 mata kuliah pilihan. Dalam skripsi ada 6 sks yang mencakup keilmuan. Kelulusan dilakuakan denga ujian munaqosah dengan 5 dosen. Mahasiswa yang telah menyelesaikan mata kuliah dengan kurikulum KKN berhak mendapatkan ijazah, transkip akademik dan  SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah). Beliau juga mengatakan mahasiswa harus bisa output tulisan-tulisan dari dosen atau dari akdemisi lainnya dan harus langsung beraksi, menjadi relasi dari dosen dan selalu menghargai dosen.

    Pemaparan materi pertama disampaikan oleh Bapak M. Nur Rofiq Addiansyah. M.A. dosen PPI IAIN Kudus. Skripsi harus dijadikan sebagai semangat, ikhtiar, usaha dan doa bukan dijadikan sebagai beban dan masalah. Faktor kesuksesan skripsi ada 2 yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari diri mahasiswa sendiri, sebagai mahasiswa harus bisa membuang rasa malas, bosan dan jenuh sehingga dapat menyelesaikan skripsi dengan cepat. Faktor eksternal berasal dari lingkungan kampus, dosen pembimbing dan teman. Ada beberapa pengalaman kuliah mulai dari semester 1 sampai 6, biasanya semester 1-2 mengikuti kuliah dengan baik, ikut organisasi dan main bersama teman-teman. Semester 3-4 mulai mengikuti berbagai lomba, semester 5 mulai magang dan mencari judul skripsi, semester 6 sibuk organisasi dan aktif kegiatan diluar kampus. Beliau juga memberikan tips agar mahasiswa cepat skripsi diantaranya membangun komunikasi yang baik dengan pembimbing, jangan terlalu serius sampai stress, buat timeline, sharing dengan orang yang tepat dan memperbanyak doa dan ikhtiar. Skripsi yang bagus adalah skripsi yang cepat selesai.

    Pemaparan materi kedua disampaikan oleh Adiba Arifia Fadilah, S.Sos. lulusan tercepat prodi PMI IAIN Kudus. Memberikan tips dan trik menyusun skripsi cepat dan tepat, kita harus menentukan target berapa lama kita menulis skipsi, membuat timeline mengerjakan skripsi, jangan terlalu berfikir lama kerjakan saja dan jangan terlalu lama  berhenti jika menemui jalan buntu harus mememukan solusinya. Dia juga memberikan tips menulis judul skripsi yaitu Cari topik yang kalian suka, berikan batasan dan tujuan yang jelas supaya penelitian tetap terfokus, sering-sering membaca referensi jurnal atau penelitian terdahulu dan ikuti saran atau rekomendasi dari dosen pembimbing. Kita harus bisa melawan rasa malas diri sendiri, kurangi megang HP, kurangi membuka media sosial, tahan diri dan fokus tujuan.  

    Pemaparan materi ketiga disampaikan oleh Aisyah Maulida, S.IP., MPA. dosen PMI IAIN Kudus. Dalam pengumpulan skripsi kita dapat menemukan berbagai pengalaman dan banyak manfaat lainnya salah satunya dalam skripsi yang dibuat beliau "Telaah Kritis Jaringan Sosial Siti Rodliyah dalam Pemilihan Legislatif 2009 di Jepara". Ada fua faktor dalam menyusun skripsi yaitu faktor internal (diri sendiri dan motivasi) dan faktor eksternal (dosen pembimbing, sumber data dan masalah non akademis). Faktor internal lebih mudah di kontrol daripada faktor internal yang lebih sulit untuk di kontrol. Kita harus punya strategi-strategi yang tepat dalam mengontrolnya yang disebabkan faktor tersebut. Beliau memberikan 5 strategi menulis skripsi diantanranya, tentukan motivasi, kenali skripsimu, jaga relasi dengan pembimbing, bangun omage baik dan realistis atau idealis.

    Pemaparan materi keempat disampaikan oleh Tevana Sari Dewi, S.Sos. lulusan tercepat prodi PPI IAIN Kudus. Skripsi adalah ajang latihan bagi mahasiswa dalam rangka melakukan penelitian secara obyektif yang membutuhkan bimbingan dari dosen pembimbing skripsi agar tidak mengalami kebingungan dan kesalahan yang fatal. Dia memberikan tips mengerjakan skripsi secara cepat dan tepat diantaranya, pertama, usahakan mencari tema penelitian yang memang kita sukai dan pahami, kedua, Pastikan kita berada dalam circle pertemanan yang punya keinginan untuk segera lulus, ketiga, Berikan waktu setidaknya 3 atau 4 jam untuk menulis skripsi, keempat, Mencari tempat untuk mengerjakan skripsi yang kondusif dan bisa berkonsentrasi tinggi, kelima, Membuat mini discussion dengan kakak tingkat, teman dan dosen dalam rangka brainstorming, dan keenam, Tidak lupa berdoa dan meminta restu orang tua. Ada beberapa rekomendasi situs dalam mencari jurnal ilmiah yaitu Google Scholar, Perpustakaan Nasional RI, Academia, Moraref, GARUDA Ristekdikti, Durectory of Open Access Journalis (DOAJ) dan Collection of Open Access Research Papers (CORE).

Kontributor : Sri Lestari Vitta Ningsih ( Mahasiswa Ppi”19 )


Tevana Sari Dewi Jadi Lulusan Pertama Prodi PPI Berkat Kegigihannya





    Mahasiswi PPI ( Pemikiran Politik Islam ) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, IAIN Kudus;Tevana Sari Dewi  yang akrab disapa Tevana ini lahir di Kudus dua puluh tahun silam yang lalu berhasil menjadi lulusan pertama di prodi PPI angkatan pertama tahun 2017.

    Gadis yang beralamat di Desa Ngembal Kulon,2/1, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus ini, berhasil menyelesaikan studi tepat waktu di jenjang Strata Satu ( S1 ) pada prodi PPI , Tevana pun tidak menyangka menjadi lulusan pertama di prodi PPI Angkatan pertama tahun 2017 , “Karena memang sejauh ini hanya bisa berusaha untuk menikmati setiap prosesnya dalam bertholabul ilmi,” ujarnya. 

    Saat ditanya mengapa memilih tema penelitian “Islam, Gender, dan Politik” tersebut, Mahasiswi PPI angkatan 2017 ini  mengatakan bahwa “Pertama, tema tersebut memang jarang diteliti, selain itu tema tersebut merupakan salah satu tema yang sesuai dengan interestnya.Untuk itulah saya mengkaji topik penelitian tersebut,” ujarnya. 

    Dengan banyak motivasi dan inspirasi,  Tevana berusaha memberikan yang terbaik terutama dalam hal pendidikannya, tak terkecuali juga dukungan dari orang tua yang membesarkan dan mendidiknya sampai sekarang terlebih Ibu yang menjadi salah satu motivasi Tevana sampai detik ini yang mungkin tidak bisa Tevana  jabarkan akan sangat berartinya beliau di hidup Tevana sehingga mampu menjadi pribadi yang seperti saat ini. Tevana juga menyampaikan ucapan “Terima kasih kepada seluruh Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam khususnya Bapak dan Ibu Dosen Prodi PPI atas didikan, ilmu, support, dan lain sebagainya terutama Bu Umi Qodarsasi, Bu Malaiha, Bu Nevy, Pak Ozi, Pak Rofiq, dan dosen lainnya yang mungkin belum saya sebutkan satu persatu. Disamping itu terselesaikannya tugas akhir saya tidak terlepas dari dosen pembimbing yaitu Bu Malaiha yang sudah membimbing, memberikan sarannya saat membimbing skripsi saya sehingga dapat melalui serta menyelesaikan tugas akhir dengan tepat waktu. Pun Tevana juga menyampaikan kepada seluruh pihak yang telah bersedia menjadi informan dalam penelitian tugas akhir saya terkhusus dalam rangka membantu memberikan berbagai data-data yang saya butuhkan di penelitian tugas akhir saya.”-ujarnya

    Tevana dinyatakan lulus dan berhasil mendapat gelar S.Sos (Sarjana Sosial) nya pada Jum’at, 9 Syawal 1442 H/21 Mei 2021 setelah menyelesaikan Ujian Munaqosah Skripsi. Gadis yang berasal dari keluarga sederhana ini selalu berusaha untuk tidak pantang menyerah meskipun dalam perjalanan menempuh pendidikannya harus merasakan beberapa challenge yang harus dilewatinya salah satunya keterbatasan ekonomi untuk pendidikannya. Semasa kuliah Ia harus memanage waktu antara kuliah, mengerjakan tugas, bekerja (part time), terlibat di beberapa kegiatan sosial, dan terkadang mengikuti lomba kepenulisan serta berpartisipasi dalam kegiatan yang mampu mengeksplore akan potensi dalam dirinya. Dengan jiwa yang tidak mudah menyerah itu di tahun 2019 Ia mengikuti seleksi Beasiwa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dan berhasil menjadi salah satu awardee selama satu semester. Tahun 2020 Ia pun kembali mengikuti seleksi Beasiswa Bank Indonesia (BI) dan kembali berhasil menjadi salah satu awardee Beasiswa Bank Indonesia sehingga Ia berhasil tergabung di komunitas penerima Beasiswa BI yaitu Komunitas Generasi Baru (GenBI) Komisariat IAIN Kudus Periode 2020/2021. “Injeksi finansial dari beasiswa yang saya dapatkan selain saya gunakan untuk biaya UKT juga saya saving sebagai biaya studi lanjut nanti Insya Allah, semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya di lain waktu nanti untuk kembali melanjutkan studi S-2 serta mampu berkontribusi sekaligus membawa kemaslahatan untuk orang lain”.-jelasnya.

    Sebagai penutupnya, Tevana juga berpesan “untuk mahasiswa terutama mahasiswa prodi PPI tetap semangat dalam thollabul’ilmi, berikan usaha yang terbaik saat menempuh studi di perguruan tinggi, gunakan fasilitas yang ada dengan sebaik-baiknya, dan jika di tengah perjalanan studi merasa gagal atau belum kompeten tidak masalah meski terkadang usaha yang kita berikan sudah maksimal namun pada realitanya belum sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan harus kembali bangkit dan semangat. The last, jangan pernah mengeluh akan tugas-tugas kuliah yang diberikan oleh Bapak/Ibu Dosen tapi jadikan tugas itu menjadi media untuk kita belajar mengeksplore akan potensi diri, ilmu, dan lain sebagainya.”-tuturnya.


Kontributor : Khoirun Yanis, Mahasiswa PPI’19


 





Juara 1 Lomba Cipta Dan Baca Puisi, Rimei Lana Yana Sukma : Tidak Terus Berpuas Diri Akan Kemenangan, Saya Akan Tetap Belajar Dan Terus Belajar




     Mahasiswa PPI ( Pemikiran Politik Islam ) IAIN Kudus, Rimei Lana Yana Sukma terpilih menjadi  juara pertama dalam Lomba Cipta Karya dan Baca Puisi dengan tema “Semarak Ramadhan, dengan judul “ Ramadhan Akan Sama ’’, yang diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa ( DEMA ) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI) IAIN Kudus .

     Mahasiswa semester empat yang  beralamat di Desa Baturejo, Kecamatan Sukolilo , Kabupaten Pati ini berhasil mendapat juara pertama berkat kemampuannya dalam membuat dan membaca puisi, “siapapun orang jika menjadi pemenang tentu akan senang, namun dengan kesenangan ini justru membuat diri saya agar tidak cepat puas memperoleh penghargaan ini dan justru menjadikan diri saya tidak akan pernah berhenti belajar tentang puisi”, tuturnya.

       Saat ditanya mengapa memilih judul “ Ramadhan Akan Sama” tersebut, Mahasiswa PPI angkatan 2019  yang akrab disapa Rimei ini mengatakan “ saya ingin mengungkapkan rasa empatinya ke dalam bentuk puisi, meskipun ramadhan tahun ini tetap dalam keadaan pandemi. Saya ingin memberi motivasi kepada masyarakat agar siapapun yang membaca atau mendengar puisi saya tidak lagi menjadikan ramadhan untuk putus asa, bermalas-malasan meskipun dalam kondisi yang tidak diinginkan”, ujarnya.

       Sebagai penutupnya, Rimei berpesan “ harapan saya dengan kemenangan ini dapat menjadikan motivasi diri saya untuk terus belajar dan memotivasi orang lain agar selalu semangat dalan meraih mimpinya”, ungkapnya.

 

Kontributor : Khoirun Yanis ( Mahasiswa PPI’19 )

Ulya Ulul Jannah ( Mahasiswa PPI’19 )

Mahasiswa sebagai Agen of Social Control dalam Upaya Meminimalisir Informasi Hoax, Partisipasi Pasif, dan Hantaman Politik Uang



Mahasiswa Menyandang Predikat dengan Pendidikan Tertinggi dari yang Lainnya

Di dalam struktur kependidikan Indonesia, mahasiswa berpredikat menyandang status pendidikan tertinggi diantara yang lain. Dari status tertinggi tersebut diketahui bahwa mahasiswa sejatinya jika diartikan secara luas akan memperoleh makna terpelajar. Maha yang artinya “ter” dan siswa artinya “pelajar”. Terpelajar bukan sekedar mempelajari bidang yang ia pelajari, melainkan juga mampu menerapkan, menginovasi, dan mengembangkan dalam bidang tersebut. Disamping itu, melalui kutipan tokoh Jean Marais dalam novel Bumi Manusia yang mengatakan bahwa “seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.” Kutipan tersebut selaras dengan peran mahasiswa sebagai agen of social control atau pengontrol kehidupan sosial di kehidupan masyarakat. 

Lebih jauh lagi, mahasiswa sebagai agen of social control harus mampu diterapkan dengan sepenuh hati di lingkungan kampus dan masyarakat. Salah satu bentuk nyata adalah berperan mengawal proses jalannya perpolitikan di Indonesia baik elemen pemerintah dan masyarakat. Jika tidak bisa berkontribusi banyak, minimal mahasiswa harus mampu mengubah pola pikir masyarakat yang dirasa tidak benar namun tetap membudaya seiring berjalannya waktu. Seperti contoh partisipasi politik warga negara dalam suatu pemilihan umum maupun daerah dimana pelaksanaannya masih terdapat bentuk partisipasi pasif, adanya informasi bersifat hoax, belum lagi persoalan hantaman praktek politik uang yang masih terjadi di lingkungan masyarakat. Bukankah iklim politik di Indonesia seperti itu adanya? Benar sekali.

    Dari permasalahan tersebut, penulis mencoba menawarkan penyelesaian masalah dengan berbagai cara yang berlandaskan dari pemahaman literatur.


Ketika Sebuah Permasalahan Saling Terbentur dengan Kurangnya SDM yang Ber-Mindset Sama: Wujud Pembahasan dan Solusi

      Dalam proses mengkawal demokrasi di Indonesia khususnya yang mengarah ke ranah politik, paling tidak seorang mahasiswa harus “melek” dalam politik. Itu sebagai acuan dasar atau langkah awal dalam proses merubah, mengurangi bentuk perilaku masyarakat yang masih mudahnya menerima informasi hoax, pasif dalam berpartisipasi politik, dan praktek politik uang.

Namun, permasalahan tersebut tidak didukung oleh elemen masyarakat yang memadai, terutama mahasiswa. Lembaga Survey Indonesia yang menyatakan bahwa 79% mahasiswa di Indonesia tidak tertarik politik  dan di tempo.co menjelaskan bahwa hanya 11% mahasiswa ingin menjadi politikus. Itu artinya, hanya ada beberapa mahasiswa saja yang tertarik mengikuti, memahami politik di Indonesia.  

Padahal banyak sekali ditemukan kecurangan yang dilakukan oleh masyarakat. Melihat dari Pilkada tahun 2020 silam, berdasarkan data yang diperoleh dari tim Cyber Drone Kemenkominfo, terdapat setidaknya ada 47 isu hoax selama Pilkada 2020, lebih spesifiknya tersebar sebanyak 602 konten, 233 diantaranya sudah diblokir oleh Kominfo . Meskipun masifnya informasi hoax ini menurun dari tahun sebelumnya, tapi informasi hoax tersebut masih terjadi. Jika saja problem ini seimbang dengan SDM yang memadai, tentu proses pengkawalan ini memunculkan hasil positif dengan tidak adanya informasi hoax.

Terlebih era sekarang semakin canggih teknologinya. Keuntungan penggunaan tekhnologi digital harus dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam penanggulangan adanya informasi hoax. Segala informasi dapat diakses dengan mudah. Mahasiswa harus betul-betul memanfaatkan tekhnologi digital dengan bijak demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.

Berpindah ke permasalahan selanjutnya yaitu rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam keikutsertaan dalam pemilihan dengan menggunakan hak suaranya tanpa ada keikutsertaan dalam bentuk lain. Kualitas partisipasi masyarakat dalam politik di Indonesia belum sepenuhnya tinggi. Masih terdapat di berbagai daerah yang kualitas partisipasinya rendah. Kemajemukan pola pikir masyarakat membuat partisipasi politik tidak merata. 

Seperti yang terjadi di Medan Sumatera Utara pada Pilkada 2020, dimana sejak reformasi, hingga saat ini partisipasi Pemilihan Kepala Daerah di Kota Medan terlihat tidak pernah menyentuh angka 60%.  Dalam hal tersebut, mahasiswa semestinya berperan sebagai kontrol politik dalam hal hubungan pemerintah dengan masyarakat atau sebaliknya. Lebih spesifik bertindak sebagai pengawas serta partisipan dalam membahas segala hal mengenai fungsi Pemerintah serta terkait pengambilan keputusan dan kebijakan Pemerintah. Intinya mahasiswa tidak boleh apatis terhadap politik di Indonesia.

Serupa dengan permasalahan politik uang yang masih saja terjadi disaat menjelang pemilihan umum dan daerah. Persoalan money politic (politik uang) di Indonesia bukanlah hal yang baru. Politik uang sering disebut sebagai korupsi elektoral karena politik uang  termasuk perbuatan curang dalam Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang hakikatnya sama dengan korupsi. (Estlund 2012:725) . Politik uang memang bisa disebut sebagai “penyakit demokrasi”, bahkan terus terjadi pada setiap pagelaran pesta demokrasi di Indonesia baik pemilu maupun pilkada.

 Sikap masyarakat dalam menindak lanjuti tawaran tersebut setidaknya ada empat respon. Pertama, menerima uang dan memilih pasangan calon tersebut, sikap ini bisa disebut sebagai pemilih transaksional (wujud dari politik uang). Kedua, menerima uangnya dan tidak memilih pasangan calon tersebut, sikap ini pun juga termasuk wujud politik uang bahkan pengelabuhan terhadap orang yang memberi uang. Ketiga, menolak uang tersebut dan tidak memilih pasangan calon yang disepakati. Keempat, menerima uang tersebut dan melaporkannya ke pihak berwenang seperti Bawaslu. Dari empat sikap tersebut, sikap ketiga dan keempat yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat sebagai pemilih. Namun sayangnya, setiap ada pesta demokrasi, penyakit demokrasi tersebut marak terjadi.

Adapun solusi sebagai mahasiswa, menjadikan sistem edukasi, sosialisasi, dan kolaborasi dalam meminimalisir praktek politik uang. Sistem edukasi, berarti meng-edukasikan kepada orang lain tentang bahaya politik uang, bisa kepada pihak terdekat seperti keluarga, lalu tetangga sekitar. Setelah dirasa memiliki sekumpulan masyarakat yang satu frekuensi dalam menyikapi politik uang, barulah ke tahap sosialisasi dan kolaborasi.

Lebih lanjut lagi, mensosialisasikan kepada masyarakat luas, tidak hanya dilakukan disaat menjelang pemilihan, namun bila tidak ada pelaksanaan pemilihan, tidak ada salahnya untuk mensosialisasikan bahaya politik uang. Tentunya dalam mensosialisasikan, penting rasanya bila berkolaborasi dengan instansi yang juga mencegah praktek politik uang. Yaitu Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu). Akan menjadi gerakan yang bermanfaat bila Bawaslu menggandeng para mahasiswa sebagai pengawas partisipatif sekaligus agen of social control. Utamanya dalam mensukseskan program Bawaslu yaitu pembentukan Desa Anti Politik Uang dan Desa Pengawasan.


Kesimpulan

Peran mahasiswa dalam pelaksanaan politik sangat dibutuhkan, khususnya meminimalisir menyebarnya informasi hoax, rendahnya partisipasi politik, dan praktek politik uang. Mahasiswa perlu melakukan perubahan perilaku dikarenakan mahasiswa merupakan kaum intelektual muda yang memiliki pemikiran kritis terhadap masalah-masalah politik yang sedang terjadi di Indonesia saat ini. Mahasiswa sebagai agen of social control sekaligus bagian dari fondasi bangsa memiliki peranan dalam mengawal proses politik di Indonesia. Yang perlu digaris bawahi, permasalahan diatas bisa dicegah, ditemukan solusi seperti menerapkan sistem edukasi, sosialisasi, dan kolaborasi. Baik permasalahan informasi hoax, partisipasi pasif, dan hantaman politik uang. Semoga demokrasi Indonesia dapat berjalan kearah yang lebih baik. Hidup mahasiswa!


Referensi: 

Nasution, Faiz Albar. “Menakar Partisipasi Politik Masyarakat Kota Medan Terhadap Pemilihan Walikota Medan Tahun 2020: Indonesia.” Politeia: Jurnal Ilmu Politik 12, no. 2 (2020): 97–133. 


Kontributor: Mochammad Ariq Ajaba,  Mahasiswa PPI'19.


HMPS PPI Menyelenggarakan Kegiatan Positif yang Bernama Gerbang Serasi

 


Secara struktural, HMPS Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus memiliki lima divisi sebagai penggagas jalannya suatu program kerja sesuai pada bidang divisi tersebut. Salah satu dari kelima divisi HMPS PPI adalah Divisi Riset dan Pendidikan Politik. Pada masa bakti 2021-2022, divisi riset dan pendidikan politik mempunyai tiga prinsip dalam menjalankan program kerjanya. Produktif, Kritis, dan Konsisten. Tiga prinsip itulah yang dijunjung oleh tiap pengurus divisi ini. 


Pada periode ini pun divisi riset dan pendidikan politik sangat padat akan program kerja yang mereka usung. Dan sebagian besar program kerja divisi riset dan pendidikan politik periode ini merupakan terobosan baru. Salah satunya adalah Gerbang Serasi: Gerakan Membangun Semangat Literasi, program kerja yang secara pure hasil ide pemikiran Mochammad Ariq Ajaba sebagai Koordinator divisi ini dengan dibantu rekan-rekan anggota divisi riset dan pendidikan politik serta jajaran pengurus lainnya.


Tepat pada hari Selasa, 30 Maret 2021 bertempat di Gedung PKM IAIN Kudus, Himpunan Mahasiswa Program Studi Pemikiran Politik Islam menyelenggarakan Gerbang Serasi edisi pertama dengan mengangkat tema “Kiat-Kiat Menulis Opini Tembus Media Massa.” Kegiatan tersebut juga mengajak rekan Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma IAIN Kudus sebagai media partner dan penambah relasi bagi HMPS PPI dalam saling tukar pandangan terhadap soal literasi utamanya kepenulisan.


Dalam kegiatan tersebut, turut hadir Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.Si. selaku ketua program studi Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus. Dalam sambutan beliau menyampaikan beberapa hal mengenai terselenggaranya Gerbang Serasi ini. 


“Melalui kegiatan Gerbang Serasi ini, kami berharap mahasiswa PPI semakin tergerak untuk meningkatkan hal positif yaitu membaca dan juga berkarya, salah satunya berkarya melalui media massa dengan menulis opini.” jelas beliau.


Beliau menekankan kepada HMPS PPI dalam kegiatan Gerbang Serasi ini tidak hanya berhenti dan terus selesai begitu saja. Beliau juga mengharapkan dalam satu periode kedepan, HMPS PPI dapat menghasilkan produk sendiri yang banyak, salah satunya berupa karya tulisan pada media massa. 


“Adanya mahasiswa-mahasiswa produktif dalam berkarya, akan menghasilkan dua manfaat sekaligus. Yang pertama secara administratif, dapat meningkatkan nilai akreditasi prodi. Yang kedua, dapat meningkatkan citra positif Prodi PPI IAIN Kudus seiring lahirnya karya-karya dari para mahasiswa.” jelas beliau.


Adapun ulasan-ulasan dari Bapak Rosidi sebagai narasumber yang telah kontributor rangkum secara baik dan menyeluruh. Yaitu sejatinya opini harus bersifat aktual atau berdasarkan faka yang terjadi, tidak memperbolehkan opini itu bersifat rekayasa. Harus nyata. Lalu opini yang ditulis harus mengandung solusi alternatif pada suatu isu/permasalahan tertentu. Tentunya pemaparan solusi ini dikemas dengan sudut pandang yang berbeda. 


Disamping itu, Bapak Rosisi menjelaskan perbedaan opini dan berita yang sering disalahartikan oleh masyarakat. Tentunya, opini sumbernya langsung dari pemikiran penulis sedangkan berita sumbernya langsung dari narasumber.


Pada ujung kegiatan, Bapak Rosidi menegaskan untuk memotivasi anggota HMPS PPI supaya giat berliterasi khususnya menulis, beliau menganalogikan dengan seseorang yang berposisikan mempunyai banyak ilmu pengetahuan, wawasan, namun tidak mau menulis, itu suatu “dosa besar”. Karena, sudah seharusnya setiap orang mentransfer pengetahuannya kepada khalayak untuk bisa diimplementasikan, dibagikan. Salah satunya melalui menulis itu tadi.


Dan terakhir, penulis akan menyampaikan statement kiranya bisa memacu semangat berliterasi sebagaimana kalimat dibawah ini:


“Jika kamu ingin mengetahui isi dunia, bacalah. Jika kamu ingin dikenal dunia, tulislah. Dan jika kamu menginginkan keduanya, konsistenlah. Konsisten dalam berliterasi.”

Salam Literasi!


Kontributor: Mochammad Ariq Ajaba, Sri Lestari Vitta Ningsih (Divisi Riset & Pendidikan Politik).


HMPS PPI Gelar Kegiatan Orientasi Mengusung Leadership dan Tata Kelola Organisasi

 




Pada hari Sabtu, 20 Maret 2021, HMPS PPI mengadakan kegiatan orientasi yang dihadiri para anggota HMPS PPI, demisioner angkatan 2019 dan 2020, serta mengundang Kaprodi Pemikiran Politik Islam, ibu Dr. Siti Malaiha Dewi, S.Sos., M.SI. Kegiatan tersebut dilakukan secara tatap muka yang bertempat di gedung MWC NU Bae Kudus. 


Sambutan pertama di sampaikan oleh salah satu demisioner ketua HMPS PPI 2019, Muhammad Taufiqurrahman atau akrab disapa Mas Fika, menjelaskan mengenai kepemimpinan dalam berorganisasi. Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan dan kelebihan khususnya pada bidang tertentu sehingga mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan aktivitas tertentu demi tercapainya sebuah tujuan. Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas orang lain atau kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Menurutnya memimpin orang atau mengarahkan orang atau mengatur orang adalah suatu hal yang “Gampang-gampang susah” (Bawahan sering mempunyai pendapat, pengalaman, kematangan jiwa, dan kemampuan yang berbeda bahkan di atas pemimpin). Bagaimana gaya kepemimpinan yang efektif? Gaya kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat kedewasaan. Saat kita ingin menjadi pemimpin maka kita harus kenali diri sendiri, kenali situasi yang dihadapi, memenuhi tugas, memenuhi kebutuhan kelompok dan individu.


Sambutan yang kedua oleh demisioner ketua HMPS PPI 2020 yaitu Setiyo Budi Utomo yang kerap disapa Mas Tiyok, menjelaskan mengenai tata kelola dalam keorganisasian. Keorganisasian merupakan sistem sosial yang terintegrasi dalam satu wadah dan memiliki tujuan yang sama. Ada beberapa dasar hukum mengenai keorganisasian salah satunya keputusan Rektor IAIN Kudus Nomor 131 tahun 2020 tentang Unit Kegiatan Mahasiswa/ORMAWA IAIN Kudus. Ada beberapa tingkatan organisasi di IAIN Kudus yaitu tingkatan institut ( Dema I, Sema I, UKK dan UKM), tingkat fakultas ( Dema Fakultas dan Sema Fakultas), tingkat program studi ( Himpunan Mahasiswa Program Studi). Menurutnya, HMPS memiliki koordinatif di tingkat program studi dengan dibawah naungan atau tingkat fakultas yaitu, sumber dana ( Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran/DIPA, Iuran Pengurus, Usaha Organisasi dan Sponsorship). Dalam berorganisasi ada beberapa poin penting diantaranya, menjadikan patokan visi & misi ketua HMPS PPI sebagai pedoman menyusun rencana kedepan, membuat struktur dan program kerja, mempunyai ketentuan aturan dalam berorganisasi dan saling kerjasama dan tanggung jawab antar sesama anggota.


Sambutan yang ketiga sekaligus penutup acara diisi oleh ibu Dr. Siti Malaiha Dewi. S.Sos., M.SI. Beliau mengatakan dalam setiap kegiatan acara ada 3 hal yang utama, yaitu panitian harus pintar mengatur anggaran buat acara demi kesejahteraan anggotanya, bisa bersinergi dalam prodi PPI dan membantu program PPI dengan ikut serta mengikuti kegiatan yang ada di dalam kampus maupun diluar kampus seperti PMI, HKI, dll. Manfaat dari berorganisasi sangat banyak salah satunya setelah lulus kuliah bisa langsung mendapatkan pekerjaan karena kita sudah pandai dalam komunikasi antar sesama. Dalam organisasi HMPS PPI bisa melatih kita menjadi mahasiswa yang lebih kritis, aktif dan komunikatif. Mahasiswa PPI setelah lulus bisa menjadi birokrasi dan politisi. Beliau juga mengatakan organisasi membutuhkan program kerja yang direncanakan harus sesuai dengan acara, mengungkapkan problem-problem dan kegiatan harus berjalan dengan sistem pengurus seperti ketua, bendahara, sekretaris dan anggota lainnya.


Kontributor : Sri Lestari Vitta Ningsih

Editor : Mochammad Ariq Ajaba


About

Institut Agama Islam Negeri Kudus Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Program Studi Pemikiran Politik Islam

Visi

Menjadikan Program Studi Unggul di Bidang Pemikiran Politik Islam Berbasis Islam Terapan pada Level Nasional Tahun 2023.

Misi

1. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran pada Program Studi Pemikiran Politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.
2. Menyelenggarakan penelitian dalam bidang Pemikiran Politik Islam berbasis Islam Terapan serta mempublikasikan di jurnal nasional.
3. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pemikiran politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.

Address:

Jl. Gondangmanis No.51, Ngembal Rejo, Ngembalrejo, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59322

Our Mail Addrees

hmpsppiiainkudus@gmail.com