Artikel

Read More

Berita

Read More

Opini

Read More

Puisi

Read More

Recent Posts

Seminar Daring, Kolaborasi KPI dan PPI

 

Seminar Daring, Kolaborasi KPI dan PPI
pelaksanaan seminar melalui virtual zoom meeting (foto;panitia)

Untuk memenuhi tugas mata kuliah komunikasi politik, mahasiswa kelas A3 PPI, C3 KPI, dan D3 KPI adakan seminar kolaborasi secara Daring (dalam jaringan). Kegiatan ini dilaksanakan pada Jum'at (25/11/2022).

Mengusung tema “Membangun Branding Lembaga, Meningkatkan Kepercayaan Publik”. Kegiatan dilaksanakan mulai pukul 08.00 WIB melalui virtual zoom meeting.

 

Turut hadir memberikan pengantar seminar kolaborasi, Wakil Dekan I Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam, Ahmad Zaini. Pembicara I humas Desa Mojorembun, Ahmad Rifai. Pembicara II akademisi Politeknik Multimedia Nusantara, Dewi Hajar Idris. Yang dimoderatori oleh Nur Rofiq Addiansyah dosen IAIN Kudus.

 

Ketua panitia seminar kolaborasi, Mohammad Abdul Rozak mengatakan diadakannya seminar kolaborasi ini merupakan inisiatif dari Nur Rofiq Addiansyah selaku dosen pengampu matkul komunikasi politik.

Menurutnya dengan adanya kegiatan ini dapat membangun hubungan baik antar mahasiswa prodi KPI serta mahasiswa prodi PPI, juga mengajak mahasiswa untuk mempersiapkan diri menyambut penerapan kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) khususnya di IAIN Kudus.

 

“ Kegiatan kolaborasi ini sebagai sarana temen-temen mahasiswa guna lebih terbuka pada hal-hal di luar perkuliahan, serta meningkatkan skill bersosial,” tutur mahasiswa semester 3 itu.

 

Lebih lanjut, Rozak berpesan kepada mahasiswa 3 kelas ini agar dapat menjaga hubungan baik yang telah terjalin, dan kedepannya bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman.

 

“ Jika kita menghadapi kesusahan yang akan membantu kita tentunya seorang teman, maka sangat penting menjaga hubungan baik dengan teman," pungkasnya.  


Kontributor: Ahmad Nur Ichsan (Pengurus HMPS PPI 2022. Divisi Media Informasi dan Komunikasi)

 

Bedah Buku Demokrasi Pasca Orba. Hadirkan Aktivis, Akademisi dan Praktisi


 

Bedah Buku Demokrasi Pasca Orba. Hadirkan Aktivis, Akademisi dan Praktisi Demokrasi
Bedah buku demokrasi pasca orba di aula gedung PKM (foto:panitia).


Mahasiswa Pemikiran Politik Islam (PPI) IAIN Kudus, mengulas praktik demokrasi pada era setelah Orde Baru dalam forum bedah buku pada Rabu (19/10/2022). Bertempat di aula Gedung PKM kampus barat IAIN Kudus. Seminar bedah buku berjudul “Demokrasi Pasca – Orba” ini digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Study (HMPS) PPI.

 

Turut hadir dalam forum, praktisi demokrasi, Ahmad Yusuf Roni selaku anggota DPRD Kabupaten Kudus, Aktivis Mahasiswa Abdul Ghofur, dan Muhammad Hasan Syamsudin Akademisi IAIN Kudus.

 

Hasan menyampaikan bahwa dalam buku karangan Jamie S. Davidson ini, kondisi demokrasi di Indonesia setelah lengsernya Presiden Soeharto terbagi dalam (3) tiga tahapan. Pertama, tahap inovasi. Merayakan kebebasan demokrasi dengan memberi wewenang bagi setiap daerah untuk mengatur pemerintahan daerahnya sendiri, sekarang ini disebut sistem otonomi daerah. Kedua, tahap stagnasi. Munculnya kualifikasi tertentu guna membatasi partisipasi partai politik. Ketiga, tahap polarisasi. Tercerai-berainya kondisi sosial masyarakat dalam menyikapi isu-isu politik.

 

“ Banyak faktor pendorong timbulnya polarisasi politik di Indonesia, salah satunya dengan penggunaan identitas kelompok tertentu untuk menyerang kelompok tertentu lainya demi tercapainya posisi kekuasaan (politik identitas, red)," jelas Hasan.

 

Lebih lanjut, Hasan mengatakan isi yang tercantum dalam buku ini, menurutnya merupakan hasil pengamatan dari kondisi praktik politik di Indonesia oleh Jamie S. Davidson pada rentang waktu 1999 hingga 2018. 

 

“ Meski begitu, harus kita sadari bersama bahwa nyatanya sekarang ini praktik polarisasi politik di Indonesia masih berlangsung,” ujarnya.

 

Disisi lain, Yusuf mengatakan terjadi kekeliruan oleh oknum pelaku politik dalam memanfaatkan kesempatan untuk berdemokrasi secara bebas. Hal ini dibuktikan dengan timbulnya anggapan masyarakat bahwa uang menjadi tolak ukur seseorang agar dapat meraih kekuasaan.

 

“ Kerap kali saya jumpai di desa-desa. Ketika memasuki waktu pemilihan Kepala Desa. Baik bapak-bapak atau ibu-ibu, obrolan mereka selalu tentang jumlah uang yang diberikan oleh kandidat calon kepala desa yang baru,” tutur anggota dewan tersebut.

 

Sedangkan sebagai aktivis, Ghofur mengajak para mahasiswa ikut serta dalam pengawalan kebijakan yang diturunkan oleh pemerintah. Hal tersebut merupakan bentuk kontrol sosial rakyat melalui suara mahasiswa pada kehidupan bermasyarakat. Karena menurutnya, tidak menutup kemungkinan bagi pemerintah melakukan kesalahan dalam membuat keputusan.

 

“ Pentingnya melakukan aksi demonstrasi ialah untuk memberitahukan kepada pemimpin bahwa telah timbul konflik di wilayahnya dikarenakan kebijakan yang ada,” jelasnya.

 

Kontributor: Ahmad Nur Ichsan (Pengurus HMPS PPI 2022, Divisi Media Informasi dan Komunikasi)

 

 

 

 

Pekan Kebangsaan, Mahasiswa PPI IAIN Kudus Hadirkan Ketua Bawaslu Kudus

Pekan Kebangsaan, Mahasiswa PPI IAIN Kudus Hadirkan Ketua Bawaslu Kudus
Penyampaian materi oleh Minan pada seminar mahasiswa pemikiran politik (foto/panitia).


Dalam Event Pekan Kebangsaan yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Study (HMPS) Pemikiran Politik Islam (PPI) IAIN Kudus. Mengadakan seminar yang dihadiri oleh Moh Wahibul Minan selaku ketua Bawaslu Kabupaten Kudus pada Selasa (18/10/2022). 

 

Mengusung tema seminar “Peran Mahasiswa dalam Pengawasan Pemilu 2024”. Seminar ini dilaksanakan di aula Gedung PKM IAIN Kudus. Dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan Mahasiswa terkait nilai-nilai politik guna menumbuhkan kesadaran dan kekritisan berfikir dalam menyikapi fenomena politik yang ada.

 

Dalam Seminar tersebut Moh Wahibul Minan menyampaikan untuk menyambut pemilu serentak yang akan dilaksanakan tanggal 14 Februari 2024. Peran Mahasiswa sangat diperlukan untuk mengawasi berjalannya pemilu, guna dapat meminimalisir pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam proses pemilu.

 

“ Masyarakat dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi pengawas partisipatif, yaitu pengawasan yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat baik secara individual maupun kelompok,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Minan menyebutkan ada (4) empat hal yang dapat dilakukan mahasiswa sebagai bentuk peran partisipatif dalam pengawasan pemilu. Pertama, menyampaikan informasi awal. Menginformasikan kepada masyarakat terkait segala hal yang tidak boleh dilakukan ketika pemilu.

 

Kedua, mencegah terjadinya pelanggaran. Mengingatkan orang lain agar tidak melakukan sesuatu yang dapat menyalahi aturan. Ketiga, mengawasi/memantau proses berjalannya pemilu di lingkungan sekitar. Keempat, melaporkan pelanggaran pemilu yang terjadi kepada pihak berwenang. 

 

“ Peran masyarakat sebagai pengawas partisipatif merupakan bagian dari kontrol nasional agar dapat memilih pemimpin yang sesuai dengan kehendak rakyat,” terangnya.

 

Selain itu, sebagai agen perubahan. Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk mengkritisi kebijakan pemerintah, menggaungkan suara rakyat dan memberi pesan moral kepada khalayak luas.

 

“ Karena hasil demokrasi yang baik tidak akan terwujud tanpa proses pengawasan yang baik pula,” pungkasnya.




Kontributor: Ahmad Nur Ichsan (Pengurus HMPS PPI 2022, Divisi Media Informasi dan Komunikasi)


Lomba Pidato Nasional, Diikuti Lebih Dari 100 Mahasiswa


Penyerahan Penghargaan kepada salah seorang peserta lomba oleh Juri Aizatun Nissak
Penyerahan Penghargaan kepada salah seorang peserta lomba oleh Juri Aizatun Nissak. (foto/panitia).


120 mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh Indonesia ikuti lomba pidato secara daring. Pengumuman peserta pemenang lomba disampaikan pada Rabu (19/10/2022). Lomba ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pekan kebangsaan yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Study (HMPS) Pemikiran Politik Islam (PPI) IAIN Kudus.

 

Salah seorang juri lomba pidato, M. Nur Rofiq Addiansyah mengaku sangat terkesan dengan antusiasme peserta lomba, meski terpisah dengan jarak tidak mengurangi semangat mahasiswa untuk menorehkan prestasi.

 

“ Peserta lomba bukan hanya mahasiswa Kudus, tetapi juga mahasiswa asal Bogor, Jakarta dan Sumatera,” tuturnya.

 

Novia Alfiyanti selaku penanggung jawab lomba mengatakan penggunaan tema “Nilai-nilai Pancasila dalam Berbangsa dan Bernegara” bertujuan agar para generasi muda lebih memahami nilai-nilai penting yang terkandung dalam Pancasila guna nantinya dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

 

“ Jika temen-temen mahasiswa ingin ikut lomba ini, maka harus tahu nilai-nilai dalam Pancasila. Hal itu sekaligus menjadi dorongan bagi temen-temen untuk belajar,” ujarnya.  

 

Lebih lanjut, Novia menyebutkan terdapat (6) enam aspek yang menjadi penilaian dalam lomba. Pertama, Kesesuaian tema. Materi pidato haruslah sesuai dengan tema yang digunakan. Kedua, Kebermaknaan tuturan. Ketiga, ketepatan ekspresi tubuh ketika menyampaikan.

 

Keempat, keakuratan dan keluasan gagasan. Ide yang disampaikan dalam pidato. Kelima, Kelancaran. Gaya bicara yang lugas, jelas dan mudah difahami. Keenam, penggunaan kata dan kesinambungan. Diksi kata yang tepat dapat mempermudah makna pesan yang ingin disampaikan.

 

“ Karena prosesnya daring, maka peserta lomba harus mengirimkan video pidatonya ke pada panitia yang bertugas. Kemudian akan diserahkan kepada dewan juri untuk diseleksi,” ujarnya.

 

Sholehudin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Hamka, Jakarta. sekaligus peraih juara pertama mengatakan awal mula mengikuti lomba ini karena melihat unggahan pamflet di akun instagram, lalu tertarik untuk melatih soft skill.

 

Informasinya dari postingan instagram, lalu memutuskan untuk ikut lomba suapaya dapat meraih prestasi dan meningkatkan kemampuan,” tuturnya ketika dihubungi melalui pesan whatsApp.

 

Sholehudin mengaku bangga karena pidatonya yang berjudul “mengimplementasikan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari” dapat bersaing dengan banyaknya peserta lomba. prestasi ini menurut Sholehudin merupakan motivasi bagi dirinya terus berkarya.

 

Bagi temen-temen jangan patah semangat dan teruslah mencoba, karena jika yang kita inginkan sekarang belum tercapai tetapi suatu saat pasti tercapai,” ungkapnya.


Kontributor: Ahmad Nur Ichsan (Pengurus HMPS PPI 2022, Divisi Media Informasi dan Komunikasi)

Pekan Kebangsaan HMPS PPI IAIN Kudus 2022

Pekan Kebangsaan HMPS PPI IAIN Kudus 2022
Pamflet kegiatan pekan kebangsaan HMPS PPI 2022.

 

Himpunan Mahasiswa Program Study (HMPS) Pemikiran Politik islam (PPI) selenggarakan Pekan Kebangsaan yang resmi dibuka pada Selasa (18/10/2002) mendatang. Bertempat di Kampus Barat IAIN Kudus. Kegiatan HMPS PPI ini dilaksanakan dua hari berturut-turut.

 

Dalam Pekan Kebangsaan ini akan di meriahkan dengan beragam kegiatan, mulai dari seminar,bazar, lomba dan bedah buku dengan judul “Demokrasi Indonesia Pasca - Orba”. Berlangsung mulai 18 sampai 19 Oktober 2022.

 

Pada hari pertama akan dilangsungkan Seminar bersama anggota Bawaslu Kabupaten Kudus yang bertempat di aula Gedung PKM, dengan tema “Peran Mahasiswa dalam Pengawasan Pemilu 2024”. Kerja sama yang dilakukan bersama Bawaslu merupakan peluang positif bagi mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuan terkait nilai-nilai politik guna menimbulkan kesadaran dan kekritisan berfikir Mahasiswa Politik.

 

Selain itu pada hari tersebut, Mahasiswa PPI menggelar Bazar di area bawah gedung PKM hingga hari kedua berakhir, beberapa stand makanan dan minuman dari Mahasiswa PPI akan dijajakan kepada seluruh civitas akademi dan umum. Bazar ini bertujuan untuk melatih kemandirian ekonomi serta menumbuhkan semangat kewirausahaan.

 

Selanjutnya, pada hari kedua di aula gedung PKM akan diadakan bedah buku berjudul Demokrasi Indonesia Pasca – Orba bersama dengan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus dan Dosen Pemikiran Politik Islam IAIN Kudus.

 

Kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang peserta lomba serta penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba pidato dan lomba baca puisi.

 


Rilis (Chan)

Jika Dialog Menyelesaikan Segalanya, Lalu Untuk Apa Ada Media

Jika Dialog Menyelesaikan Segalanya, Lalu Untuk Apa Ada Media
(Foto:/Istimewa).


Pola pikir seseorang setara dengan pendapat mereka. Karena pendapat didasarkan pada pemahaman pribadi dan bagaimana hal itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kapasitas media untuk mempengaruhi opini publik adalah salah satu kemampuan pers yang paling menakutkan. Artinya, hanya penyampaian visual atau audiovisual akan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat. .Hal ini menunjukkan bahwa media memiliki potensi yang sangat tinggi untuk mengubah budaya masyarakat atau struktur pemerintahan. Selain itu, media memiliki kekuatan untuk menggerakkan anggota masyarakat guna terlibat dalam aktifitas perbaikan masyarakat. Mengapa aspek negatif bangsa ini terus muncul di media? Mulai dari kemiskinan, kriminalitas, korupsi, dan isu-isu asusila lainnya. Menurut penulis hal ini merupakan bentuk keberpihakan dan upaya media untuk menyoroti fakta bahwa bangsa kita belum sepenuhnya sejahtera. Masih ada beberapa titik kerusakan yang perlu diperbaiki. Hal-hal yang belum dilakukan oleh agen pemerintahan dibocorkan oleh media. Tugas media adalah transparan, dan pemerintah atau masyarakat akan melakukan tindakan lebih lanjut.

 

Coba bayangkan jika media di Indonesia hanya fokus menampilkan kebaikan bangsa kita. Mungkinkah para generasi muda membawa rasa nasionalisme? Mungkinkah usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah akan dilakukan segencar sekarang? Penulis percaya keberanian pers menandakan awal perubahan. Ini adalah pintu bagi mereka yang dirugikan dan berada dibawah tekanan dapat bersuara untuk memperjuangkan hak serta menyampaikan aspirasi mereka. Kenyataan yang terkesan ditutup-tutupi disebabkan oleh kurangnya opini dan media yang mengungkap sebab dan akibat dari fenomena yang ada. Informasi tentang kerusakan akan diikuti upaya perbaikan. Kebebasan Pers merupakan hasil dari upaya memperjuangkan kehidupan informasi.

 

Politik dan Maksiat Opini

 

“Lebih baik hidup jujur meski dalam keburukan. Daripada hidup dalam citra kebaikan, tapi itu bohong”.

 

Semua orang mengharapkan perubahan. Akan tetapi Gagasan perubahan yang diinginkan setiap orang berbeda. Pada akhirnya, perjuangan untuk melakukan perubahan menjadi perjuangan untuk saling melemahkan. Yang muncul hanyalah konflik berkepanjangan jika aktivitas perubahan tidak mencapai puncaknya. Ya, dalam dunia politik yang penuh “persimpangan” dan persaingan ini, hanya ada dua kemungkinan. Yakni menjadi orang yang membawa perubahan atau orang yang mengikuti perubahan. Daripada menjadi objek, semua orang akan memilih menjadi subjek. Secara konstitusional, status subjek sebagai "mahkota raja" diperebutkan saat itu. Peran media dalam konflik politik ini sebanding dengan suara Tuhan. Suara yang paling tulus dan suci. Suara yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan dan mengubah pikiran dan hati seseorang. Media mengungguli mesin politik (yang disebut parpol), karena opini publik dibangun oleh media, yang tidak dapat dipisahkan dari citra. Ruang politik akan menyeret media yang telah kehilangan independensi dan kode etik lainnya. Pada akhirnya, seperti halnya partai politik, media juga membentuk koalisi politik, membentuk oposisi politik media. Ini disebut dualisme kekuasaan Tuhan jika suara Tuhan telah dipolitisasi dan membentuk oposisi (al-Anbiya 21).

 

Dengan demikian, media yang telah diintervensi hingga menghilangkan sikap independensinya akan berpotensi melakukan kejahatan publik. Dalam konteks politik, kejahatan tersebut ada dalam upaya memvisualisasikan citra yang tidak sebenarnya. Citra yang dimaksud disini, tentu tidak terbatas saat momen menjelang Pilpres seperti sekarang ini. Tapi juga pencitraan dini yang ujung-ujungnya untuk mencapai kekuasaan, baik dalam citra pemerintahan atau citra figurisasi.

 

Realitas dan citra tidak dapat dipisahkan. Namun, alih-alih berasimilasi, citra dengan realitas seringkali tampak terputus-putus. Keterputusan ini sering disebut dengan Hiperealitas. Yaitu, ketidakmampuan kesadaran untuk membedakan kenyataan dan fantasi. Citra dapat mengaburkan hal yang sebenarnya. Selain itu, media tentu dapat dengan mudah memanipulasi citra tersebut. Di sisi lain, kualitas pendidikan yang diterima masyarakat Indonesia belum cukup tinggi untuk mengaktifkan sistem filter dan membedakan antara realitas dan fantasi. .Akibatnya, sudut pandang yang bermotif politik dan provokatif dapat dengan mudah disisipkan oleh media. Saat itulah media telah menciptakan opini amoral, konspirasi besar-besaran.

 

Tindakan mempublikasikan opini atau berita yang tidak bermoral seharusnya tidak dilakukan. Akan jauh lebih baik menyebarkan informasi yang sebenarnya tanpa mencampuradukan argumen pribadi ke dalam informasi. Karena pergeseran dan penyimpangan dimulai dengan pencampuradukan sesuatu yang tidak semestinya. Kompleksitas diciptakan oleh pergeseran dan penyimpangan jangka panjang. Akibatnya, sulit bagi kita untuk membedakan antara benar dan salah, murni dan tidak murni. Karena semua telah bergabung untuk membentuk satu kesatuan. Dalam konteks ini jika media telah kehilangan kemurnian fungsinya, menghilangkan unsur kepentingan dari tubuh pers adalah langkah awal kembali ke kemurnian, agar pers bisa kembali pada hakikat sebenarnya. Gunakan cita-cita politik untuk bermain politik. Komunikasi yang ideal dengan media. karena ada "ruangan" dalam segala hal dengan batas pintu yang berbeda. Ayo, kita pertahankan kemerdekaan bersama.


Kontributor: Ahmad Nur Ichsan (Pengurus HMPS PPI 2022. Divisi Media Informasi dan Komunikasi).

 

About

Institut Agama Islam Negeri Kudus Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Program Studi Pemikiran Politik Islam

Visi

Menjadikan Program Studi Unggul di Bidang Pemikiran Politik Islam Berbasis Islam Terapan pada Level Nasional Tahun 2023.

Misi

1. Melaksanakan pendidikan dan pengajaran pada Program Studi Pemikiran Politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.
2. Menyelenggarakan penelitian dalam bidang Pemikiran Politik Islam berbasis Islam Terapan serta mempublikasikan di jurnal nasional.
3. Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang pemikiran politik Islam berbasis nilai-nilai Islam Terapan yang humanis, aplikatif, dan produktif.

Address:

Jl. Gondangmanis No.51, Ngembal Rejo, Ngembalrejo, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah 59322

Our Mail Addrees

hmpsppiiainkudus@gmail.com